Advertise
TOTAL MEMBERS:
42.228
TOTAL FOBLOGS:
91.798
TOTAL FRIENDSHIPS:
165.300
Searching:
Create Blog

Teori Aktualisasi diri

Navigation: Foblog Online » Lihat Semua Foblog » Psikologi » Tokoh dan Teori Psikologi » Teori Aktualisasi diri
Published on 02 December 2010 16:48 by Ahmad SyamComment
Category: Psikologi » Tokoh dan Teori Psikologi4354 Views 17258 Chars
Short URL: Print Teori Aktualisasi diri   PDF Teori Aktualisasi diri
 
  

Teori Aktualisasi diri


[Cover] Teori Aktualisasi diri

Teori Aktualisasi Diri Abraham Maslow

Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908. Semua gelar psikologinya diperoleh dari Universitas Wisconsin. Nama Maslow menjadi pembicaraan banyak orang terutama setelah ia meluncurkan buku keduanya Motivation and Personality pada 1954. Berbeda dengan teoritikus-teoritikus psikologi sebelumnya yang mendasarkan teorinya pada hasil penelitian mengenai orang-orang yang sakit jiwa, Maslow merumuskan teorinya dari hasil-hasil penelitiannya mengenai orang-orang sehat, kreatif, dan telah mencapai puncak-puncak prestasi. Ia banyak meneliti orang-orang besar zaman dulu dan yang sezaman dengannya semisal Abraham Lincoln, Albert Einstein, Joseph Hayden, dan Ralph W. Emerson.

Maslow menyebut dirinya sebagai orang yang berpandangan humanistik dalam psikologi. Pandangannya tentang manusia positif dan optimistik. Ia yakin bahwa manusia pada dasarnya baik, mempunyai potensi-potensi yang tak terukur untuk mencapai puncak tertinggi.

Tingkat-tingkat Kebutuhan

Salah satu sumbangan penting Abraham Maslow bagi psikologi modern adalah teorinya tentang aktualisasi-diri (self-actualization). Pembahasan tentang aktualisasi-diri tidak bisa dilepaskan dari teori Maslow tentang tingkat-tingkat kebutuhan. Menurut Maslow kebutuhan-kebutuhan itu adalah faktor-faktor yang mendorong (memotivasi) orang untuk melakukan perbuatan. Kebutuhan tingkat pertama berupa kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan seperti makan, minum, dan hubungan seksual. Tingkat kedua berupa kebutuhan akan rasa aman (safety needs), di mana orang bisa bebas melakukan aktivitasnya tanpa terganggu oleh ancaman-ancaman yang dapat mengincar keselamatannya. Tingkat ketiga adalah kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta (social needs). Pada tingkat ini orang butuh untuk mengikatkan dirinya pada kelompok sosial tertentu dan mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok tersebut. Tingkat keempat adalah kebutuhan akan penghargaan (esteem needs). Kelima, dan yang paling tinggi, adalah kebutuhan akan aktualisasi-diri. Aktualisasi diri dapat diartikan sebagai perkembangan yang paling tinggi dan penggunaan semua bakat, potensi, serta penggunaan semua kualitas dan kapasitas secara penuh.

Karena aktualisasi diri adalah kebutuhan yang paling tinggi, maka ia menjadi kebutuhan yang paling rendah prioritasnya. Orang harus memenuhi keempat kebutuhan di bawahnya untuk merasa butuh akan aktualisasi-diri. Karena itu, menurut Maslow, sangat sedikit di dunia ini orang yang sudah mencapai tahap aktualisasi-diri; kurang dari 1 (satu) persen dari seluruh manusia yang ada di bumi.

Meta-Kebutuhan dan Patologinya

Dalam hirarkinya Maslow membedakan antara kebutuhan dasar (basic-needs) dan kebutuhan tinggi (meta-kebutuhan atau meta-needs). Kebutuhan dasar mencakup kebutuhan tingkat kesatu sampai tingkat keempat. Sedangkan meta-kebutuhan adalah kebutuhan tingkat kelima (kebutuhan akan aktualisasi-diri). Meta-kebutuhan inilah yang menjadi motivasi utama bagi orang yang teraktualisasi-diri. Karena itu kebutuhan tingkat tertinggi ini disebut juga meta-motivasi.

Maslow mendata macam-macam meta-kebutuhan ini dan mendapatkan tujuh belas meta-kebutuhan yang jika tidak terpenuhi akan menjadi meta-patologi (penyakit kejiwaan). Tujuh belas meta-kebutuhan yang oleh Maslow disebut juga Being-values (B-values; kebutuhan akan pertumbuhan) itu adalah:

1.  Kebenaran, dengan meta-patologinya ketidakpercayaan, sinisme, dan skeptisisme.

2.  Kebaikan, dengan meta-patologinya kebencian, penolakan, kejijikan, kepercayaan hanya pada dan untuk diri.

3.  Keindahan, dengan meta-patologinya kekasaran, kegelisahan, kehilangan selera, rasa suram.

4.  Kesatuan, keparipurnaan, dengan meta-patologinya disintegrasi.

5.  Transendensi-dikotomi, dengan meta-patologinya pikiran hitam/putih, pandangan salah satu dari dua, pandangan sederhana tentang kehidupan.

6.  Penuh energi; proses, dengan meta-patologinya mati, menjadi robot, terdeterminasi, kehilangan emosi dan semangat, kekosongan pengalaman.

7.  Keunikan, dengan meta-patologinya kehilangan perasaan diri dan individualitas, anonim.

8.  Kesempurnaan, dengan meta-patologinya keputusasaan, tidak bisa bekerja apa-apa.

9.  Kepastian, dengan meta-patologinya kacau-balau, tidak dapat diramalkan.

10. Penyelesaian; penghabisan, dengan meta-patologinya ketidaklengkapan, keputusasaan, berhenti berjuang dan menanggulangi.

11. Keadilan, dengan meta-patologinya kemarahan, sinisme, ketidakpercayaan, pelanggaran hukum, mementingkan diri sendiri.

12. Tata tertib, dengan meta-patologinya ketidakamanan, ketidakwaspadaan, ketidakhati-hatian.

13. Kesederhanaan, dengan meta-patologinya terlalu kompleks, kekacauan, kebingungan, kehilangan orientasi.

14. Kekayaan; keseluruhan; kelengkapan, dengan meta-patologinya depresi, kegelisahan, kehilangan perhatian pada dunia.

15. Tanpa susah payah; santai; tidak tegang, dengan meta-patologinya kelelahan, tegangan, kecanggungan, kejanggalan, kekakuan.

16. Bermain; kejenakaan, dengan meta-patologinya keseraman, depresi, kesedihan.

17. Mencukupi diri sendiri; mandiri, dengan meta-patologinya tidak berarti, putus asa, hidup sia-sia.

Bagi orang yang telah mencapai aktualisasi diri, tidak terpenuhinya satu apalagi beberapa dari meta-kebutuhan itu akan membuatnya sangat kesakitan, lebih sakit daripada kematian. Karena itu orang-orang besar seperti Sokrates, Isa, Suhrawardi, Galileo, lebih memilih mati daripada hidup dalam tatanan sosial yang menurutnya tidak adil.

Sifat-Sifat Orang Yang Mencapai Aktualisasi Diri

Untuk mencapai tingkat aktualisasi-diri, orang harus sudah memenuhi empat kebutuhan sebelumnya. Ia jangan lagi direpotkan oleh masalah mencari makan, jangan lagi dihiraukan oleh ancaman keamanan dan penyakit, memiliki teman yang akrab dan penuh rasa cinta, juga memiliki perasaan dihargai. Ia bebas dari neurosis, psikosis, dan gangguan psikologis lain. Sifat lainnya adalah soal usia: orang yang mengaktualisasikan dirinya tampaknya adalah orang yang telah setengah tua atau lebih tua. Maslow bahkan menyebut usia 60 tahun atau lebih, sebab orang setua ini sudah mencapai taraf kematangan (sudah hampir selesai), dalam arti tidak akan atau sulit untuk berubah lagi.

Sifat-sifat berikut ini merupakan manifestasi dari metakebutuhan-metakebutuhan yang disebutkan di atas.

1.  Berorientasi secara Realistik

Inilah sifat paling umum dari orang yang teraktualisasi. Ia mampu mengamati objek-objek dan orang-orang di sekitarnya secara objektif. Maslow menyebut persepsi objektif ini Being-cognition (B-cognition), suatu bentuk pengamatan pasif dan reseptif, semacam kesadaran tanpa hasrat. Ia melihat dunia secara jernih sebagaimana adanya, tanpa dipengaruhi oleh keinginan, kebutuhan, atau sikap emosional.

2.  Penerimaan umum atas kodrat, orang-orang lain dan diri sendiri

Orang yang teraktualisasi menerima dirinya, kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatannya tanpa keluhan atau kesusahan. Ia menerima kodratnya sebagaimana adanya, tidak defensif atau bersembunyi di balik topeng-topeng atau peranan sosial. Sikap penerimaan ini membuatnya mampu mendengarkan orang lain dengan penuh kesabaran, rendah hati dan mau mengakui bahwa ia tidak tahu segala-galanya dan bahwa orang lain akan mengajarinya sesuatu.

3.  Spontanitas, kesederhanaan, kewajaran

Dalam semua segi kehidupan, orang yang teraktualisasi bertingkah laku secara terbuka dan langsung tanpa berpura-pura. Ia tidak harus menyembunyikan emosi-emosinya, tetapi dapat memerlihatkan emosi-emosi tersebut secara jujur dan wajar. Seperti anak kecil, orang yang teraktualisasi kadang terlihat lugu, mendengarkan dengan penuh perhatian, takjub dan heran akan sesuatu yang baru, dan itu semua dilakukannya secara apa adanya tanpa dibuat-buat.

4.  Memusatkan diri pada masalah dan bukan pada diri sendiri

Orang yang teraktualisasi-diri tidak pernah menyalahkan diri sendiri ketika gagal melakukan sesuatu. Ia menganggap kegagalan itu sebagai suatu hal yang lumrah dan biasa saja. Ia mungkin akan mengecam setiap ketololan dan kecerobohan yang dilakukannya, tetapi hal-hal tersebut tidak menjadikannya mundur dan menganggap dirinya tidak mampu. Dicobanya lagi memecahkan masalah dengan penuh kegembiraan dan keyakinan bahwa ia mampu menyelesaikannya.

5.  Memiliki kebutuhan akan privasi dan independensi

Orang yang mengaktualisasikan-diri memiliki kebutuhan yang kuat untuk memisahkan diri dan mendapatkan suasana kesunyian atau suasana yang meditatif. Ia butuh saat-saat tertentu untuk tidak terganggu oleh adanya orang lain. Ia memiliki kemampuan untuk membentuk pikiran, mencapai keputusan, dan melaksanakan dorongan dan disiplin dirinya sendiri.

6.  Berfungsi secara otonom terhadap lingkungan sosial dan fisik

Orang yang mengaktualisasikan-diri sudah dapat melepaskan diri dari ketergantungan yang berlebihan terhadap lingkungan sosial dan fisik. Pemuasan akan motif-motif pertumbuhan datang dari dalam diri sendiri, melalui pemanfaatan secara penuh bakat dan potensinya.

7.  Apresiasi yang senantiasa segar

Orang yang teraktualisasi senantiasa menghargai pengalaman-pengalaman tertentu bagaimana pun seringnya pengalaman itu terulang, dengan suatu perasaan kenikmatan yang segar, perasaan terpesona, dan kagum. Bulan yang bersinar penuh, matahari terbenam, gelak tawa teman, dan hal-hal biasa lainnya selalu dipandang seolah-olah merupakan pengalaman yang baru pertama kali baginya. Apresiasi yang senantiasa segar ini membuat hidupnya selalu bergairah tanpa kebosanan.

8.  Mengalami pengalaman-pengalaman puncak (peak experiences)

Ada kesempatan di mana orang yang mengaktualisasikan diri mengalami ekstase, kebahagiaan, perasan terpesona yang hebat dan meluap-luap, seperti pengalaman keagamaan yang mendalam. Inilah yang disebut Maslow “peak experience” atau pengalaman puncak. Pengalaman puncak ini ada yang kuat dan ada yang ringan. Pada orang yang teraktualisasi, perasaan “berada di puncak” ini bisa diperolehnya dengan mudah, setiap hari; ketika bekerja, mendengarkan musik, membaca cerita, bahkan saat mengamati terbit matahari.

9.  Minat sosial

Orang yang teraktualisasi memiliki perasaan empati dan afeksi yang kuat dan dalam terhadap semua manusia, juga suatu keinginan membantu kemanusiaan. Ia menemukan kebahagiaan dalam membantu orang lain. Baginya mementingkan orang lain berarti mementingkan diri sendiri.

10. Hubungan antarpribadi yang kuat

Orang yang teraktualisasi memiliki cinta yang lebih besar, persahabatan yang lebih dalam serta identifikasi yang lebih sempurna dengan individu-individu lain. Sahabat-sahabatnya bisa jadi tidak banyak, tetapi sangat akrab. Istrinya mungkin cuma satu, tetapi cinta yang diterima dan diberikannya sangat besar dan penuh kesetiaan. Ia tidak memiliki ketergantungan yang berlebihan kepada orang yang dicintai sehingga membuatnya terhindar dari cemburu buta, iri hati, dan kecemasan.

11. Struktur watak demokratis

Orang yang sangat sehat membiarkan dan menerima semua orang tanpa memerhatikan kelas sosial, tingkat pendidikan, golongan politik, ras, warna kulit, bahkan agama. Tingkah laku mereka menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi, tidak angkuh, tidak picik atau menganggap diri paling benar. Sifat ini menggabungkan beberapa meta-kebutuhan seperti kebenaran, kejujuran, dan keadilan.

12. Mampu mengintegrasikan sarana dan tujuan

Bagi orang yang teraktualisasi, sarana adalah sarana dan tujuan adalah tujuan. Tetapi berbeda dengan orang-orang biasa, orang yang teraktualisasi melihat sarana bisa pula menjadi tujuan karena kesenangan dan kepuasan yang ditimbulkannya. Pekerjaan bagi orang yang sehat bukanlah semata-mata untuk mendapatkan keuntungan material, tetapi untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan. “Menyenangi apa yang dilakukan” sekaligus “melakukan apa yang disenangi”, membuat hidup bebas dari paksaan, terasa santai dan penuh dengan rekreasi.

13. Selera humor yang tidak menimbulkan permusuhan

Humor yang disukai oleh orang yang mencapai aktualisasi lebih bersifat filosofis; humor yang menertawakan manusia pada umumnya, bukan kepada individu tertentu. Ini adalah sejenis humor yang bijaksana yang dapat membuat orang tersenyum dan mengangguk tanda mengerti daripada membuatnya tertawa terbahak-bahak.

14. Sangat kreatif

Kreativitas juga merupakan ciri  umum pada manusia superior ini. Ciri-ciri yang berkaitan dengan kreativitas ini antara lain fleksibilitas, spontanitas, keberanian, keterbukaan, dan kerendahan hati. Maslow percaya ini merupakan sifat yang sering hilang tatkala orang sudah dewasa.

Kreativitas bisa berarti menghasilkan karya baru, asli, inovatif, atau menggabungkan beberapa penemuan sehingga didapatkan sesuatu yang berbeda. Kreativitas juga merupakan suatu sikap, suatu ungkapan kesehatan psikologis dan lebih mengenai cara bagaimana kita mengamati dan beraksi terhadap dunia – suatu proses – dan bukan mengenai hasil-hasil yang sudah selesai.

15. Menentang konformitas terhadap kebudayaan

Orang yang teraktualisasi bukanlah penentang kebudayaan, tetapi ia dapat berdiri sendiri dan otonom, mampu melawan dengan baik pengaruh-pengaruh sosial untuk berpikir dan bertindak menurut cara-cara tertentu yang diyakininya baik. Orang ini tidak terlalu memermasalahkan hal-hal kecil seperti cara berpakaian, tata-krama, cara makan, dan sebagainya, tetapi ia dapat keras dan terus-terang jika mendapati soal-soal yang sangat penting baginya mengenai aturan-aturan dan norma-norma masyarakat.

 

Sumber: Asep Sofyan-[Blog Asep Sofyan]

 



Kata Kunci:



Dapatkan informasi terbaru dan menarik melalui media sosial PsikoMedia

PsikoMedia on Facebook:

 
PsikoMedia on Twitter:

 

Baca Juga
Foblog Psikologi :Foblog Lain-lain :


Facebook Comments





Kirim Komentar


Login first to leave a comment.
Signup here or Login here
PsikoMedia © 2008-2014 ® All Rights Reserved