Advertise
TOTAL MEMBERS:
42.028
TOTAL FOBLOGS:
71.707
TOTAL FRIENDSHIPS:
165.286
Searching:
Create Blog

Faktor-faktor Motivasi Kerja

Navigation: Foblog Online » Lihat Semua Foblog » Psikologi » Psikologi Industri Organisasi » Faktor-faktor Motivasi Kerja
Published on 14 March 2009 19:06 by Ryan Comment
Category: Psikologi » Psikologi Industri Organisasi3397 Views 5041 Chars
Short URL: Print Faktor-faktor Motivasi Kerja   PDF Faktor-faktor Motivasi Kerja

Faktor-faktor Motivasi Kerja


Motivasi seorang karyawan untuk bekerja biasanya merupakan hal yang rumit, karena motivasi itu melibatkan faktor-faktor individual dan faktor-faktor organisasional. Faktor-faktor yang bersifat individual diantaranya adalah : kebutuhan-kebutuhan (needs), tujuan-tujuan (goals), sikap (attitude), dan kemampuan-kemampuan (abilities), sedangkan faktor-faktor organisasional antara lain : pembayaran atau gaji (pay), keamanan pekerjaan (job security), sesama karyawan (co-workers), pengawasan (supervision), pujian (praise), dan pekerjaan itu sendiri (job itself). (Gomes, 1997).

Herzberg sebagaimana diuraikan dalam Davis & Newstrom, (1995), Parrek, (1996), Munandar, (2001), dan Hasibuan, (2003), membagi motivasi kerja kedalam 2 (dua) faktor, yang diberi nama Teori Dua Faktor (Herzberg’s Two Factors Motivation Theory), yaitu :

Faktor yang berkaitan dengan isi pekerjaan, yang merupakan faktor instrinsik dari pekerjaan tersebut, antara lain : a) tanggung jawab (responsibility), besar kecilnya tanggung jawab yang dirasakan dan diberikan kepada seorang karyawan; b) kemajuan (advancement), besar kecilnya kemungkinan karyawan dapat maju dalam pekerjaannya; c) pekerjaan itu sendiri (the work itself), besar kecilnya tantangan yang dirasakan oleh karyawan dari pekerjaannya; d) pencapaian (achievement), besar kecilnya kemungkinan karyawan mencapai prestasi kerja, mencapai kinerja yang tinggi; e) pengakuan (recognition), besar kecilnya pengakuan yang diberikan kepada karyawan atas kinerja yang dicapai.

Jika faktor-faktor tersebut tidak (dirasakan) ada, maka karyawan menurut Herzberg, merasa not satisfied (tidak lagi puas), yang berbeda dari dissatisfied (tidak puas).

Kelompok faktor yang lain yang menimbulkan ketidakpuasan, berkaitan dengan konteks pekerjaan, berupa faktor-faktor ekstrinsik dari pekerjaan, yaitu : a) kebijakan dan administrasi perusahaan (company policy and administration, derajat kesesuaian yang dirasakan karyawan dari semua kebijakan dan peraturan yang berlaku dalam organisasi; b) kondisi kerja (working condition), derajat kesesuaian kondisi kerja dengan proses pelaksanaan tugas pekerjaannya; c) Gaji dan upah (wages or salaries), derajat kewajaran dari gaji yang diterima sebagai imbalan kinerjanya; d) hubungan antar pribadi (interpersonal relation), derajat kesesuaian yang dirasakan dalam berinteraksi dengan karyawan yang lain; e) kualitas supervisi (quality supervisor), derajat kewajaran penyeliaan yang dirasakan dan diterima oleh karyawan.

Kondisi faktor ini dinamakan kelompok hygiene. Kalau faktor-faktor pada kelompok ini dirasakan kurang atau tidak diberikan, maka karyawan akan merasa tidak puas (dissatisfied). Karyawan akan banyak mengeluh. Jika hygiene, dirasakan ada atau diberikan, maka yang timbul bukanlah kepuasan kerja, tetapi not dissatisfied, atau tidak lagi tidak puas.

Siagian, (1995), menerangkan bahwa dalam usaha mengembangkan teorinya, Herzberg melakukan penelitian yang bertujuan untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan : “Apa sesungguhnya yang diinginkan oleh seseorang dari pekerjaannya ?” Herzberg yakin bahwa hubungan antara seseorang dengan pekerjaannya sangat mendasar dan karena itu sikap seseorang terhadap pekerjaannya itu sangat mungkin menentukan keberhasilan dan kegagalannya. Hasil penelitian Herzberg yang menarik adalah bahwa bila para karyawan merasa puas dengan pekerjaannya, kepuasan itu didasarkan faktor-faktor yang bersifat intrinsik seperti keberhasilan mencapai sesuatu pengakuan yang diperoleh, sifat pekerjaan yang dilakukan, rasa tanggung-jawab, kemajuan dalam karier, pertumbuhan profesional dan intelektual yang dialami oleh seseorang. Sebaliknya apabila para karyawan merasa tidak puas dengan pekerjaannya, ketidakpuasan itu pada umumnya dikaitkan dengan faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik, artinya bersumber dari luar diri karyawan yang bersangkutan, seperti: kebijakan organisasi, pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan, supervisi oleh manajer, hubungan interpersonal dan kondisi kerja. Jawaban atas pertanyaan yang diajukan Sejalan dengan pendapat tersebut, Soedjadi, 1996, menguraikan bahwa pertanyaan yang diajukan Herzberg bila dilihat dari teori motivasi, jawabnya ialah pada umumnya para karyawan ingin melakukan kegiatan yang mempunyi arti penting bagi diri sendiri dan bagi organisasi. Hal ini terlihat dari jawaban yang diperoleh bahwa karyawan yang “meaningfull” dipandang “paling penting” dibandingkan penghasilan yang besar. Berarti bagi kebanyakan karyawan uang memang penting tetapi bukan yang terpenting.

Berdasarkan uraian beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap motivasi kerja meliputi 2 hal, yaitu:

  1. Intrinsik : yang berasal dari dalam diri seseorang dan berkaitan dengan isi pekerjaan, seperti tuntutan terhadap kebutuhan, tujuan pribadi, sikap dan kemampuan, rasa tanggungjwab, dll
  2. Ekstrinsik : yang berasal dari luar, seperti suasana kerja, gaji dan upah, hubungan inter personal, kebijakan organisasi, dll.

Dapatkan informasi terbaru dan menarik melalui media sosial PsikoMedia

PsikoMedia on Facebook:

 
PsikoMedia on Twitter:

 

 
  

Baca Juga
Foblog Psikologi :Foblog Lain-lain :


Facebook Comments





Kirim Komentar


Login first to leave a comment.
Signup here or Login here
PsikoMedia © 2008-2014 ® All Rights Reserved